Via DetikFood

Jakarta – Berbagai makanan bisa dibuat dengan tambahan bahan-bahan tak lazim, seperti bir yang terbuat dari ekstrak ragi jenggot milik John Maier. Kini ada keju yang terbuat dari bakteri kaki dan ketiak manusia!

Seperti dikutip dari Gizmodo (28/10/2013), Christina Agapakis dan Sissel Tolaas akan menampilkan proyek keju dalam pameran Grow Your Own… Life After Nature yang diselenggarakan Trinity College di Dublin, Irlandia.

Keju berbentuk roda ini terbuat dari sampel bakteri kaki dan ketiak orang yang berbeda. Lewat karyanya, Agapakis dan Tolaas ingin menjelaskan bahwa minat terhadap bebauan dan mikroba menggiring mereka untuk membuat keju sebagai model organisme.

Dengan keju buatannya, Agapakis dan Tolaas juga ingin mengetahui bisakah pengetahuan dan daya tahan bakteri dalam makanan meningkatkan daya tahan bakteri dalam tubuh manusia. Hingga saat ini belum jelas apakah sampel keju dari bakteri akan dikeluarkan untuk publik.

Pameran Grow Your Own… Life After Nature sendiri berfokus pada karya-karya yang diciptakan dengan biologi sintetik, seperti potret yang terbuat dari hasil analisis DNA manusia yang ditemukan pada bekas puntung rokok.

“Biologi sintetik adalah pendekatan baru untuk modifikasi genetik, menerapkan cita-cita rekayasa untuk kompleksitas sistem kehidupan,” ujar Alexandra Daisy Ginsberg selaku pemimpin kurator.

Read More


Via detik.com

Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) membuktikan bahwa dugaan proses sertifikasi halal rumit dan mahal adalah salah. Di Sulawesi Tenggara, lembaga ini memberikan sertifikat halal secara gratis kepada UKM.

Seperti diberitakan situs Halal MUI baru-baru ini, LPPOM MUI Provinsi Sulawesi Tenggara memberikan sertifikat halal kepada beberapa pengusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kendari pada pertengahan Februari lalu, tanpa memungut biaya.

“Kami bekerja sama dengan Kementerian Agama serta Badan Pengawas Obat dan Makanan Sulawesi Tenggara, sehingga dapat melakukan proses sertifikasi halal untuk 10 UMKM tanpa biaya,” ujar Direktur LPPOM MUI Sulawesi Tenggara Dra. Hj. Wa Ode Asnah Ganiu, Apt.

Beberapa UMKM yang sudah mendapat sertifikat halal dari LPPOM MUI Sulawesi Tenggara adalah Ortega Mandiri dan Annas Usaha Martabak. Mas Jas Usaha Gorengan dan BCL Ibu Kalampa yang memproduksi aneka gorengan juga sudah mengantungi sertifikat halal MUI.

Proses sertifikasi halal ini dilaksanakan berbarengan dengan program Penyuluhan Produksi Pangan yang Aman, Sehat, dan Tayib. Sebab, LPPOM MUI menerima laporan dari masyarakat bahwa beberapa pedagang menjual gorengan dengan campuran plastik agar lebih renyah dan tahan lama. Padahal, bahan nonpangan ini berbahaya jika dikonsumsi.

Pada proses sertifikasi halal, LPPOM MUI Sulawesi Tenggara tak hanya melakukan audit ke lokasi usaha, melainkan juga memberikan advokasi dan saran perbaikan. Tujuannya adalah untuk menghasilkan produk pangan yang halal dan tayib, alias aman dan sehat untuk dikonsumsi.

Dengan diterbitkannya sertifikat halal untuk UMKM, diharapkan masyarakat memperoleh ketenteraman batin dan kesehatan fisik karena terhindar dari konsumsi bahan-bahan yang berbahaya bagi kesehatan.

SUMBER: LPPOM MUI

Read More


Via detik.com

Selandia Baru telah mengekspor daging halal sejak tahun 1970-an dengan hanya sedikit campur tangan pemerintah. Namun kini, pemerintah menerapkan aturan ketat bagi industri pemotongan daging demi memenuhi permintaan pasar muslim.

Dulu, seperti diberitakan media Selandia Baru The Press (29/03/2014), penyembelih hewan halal tak memerlukan persyaratan apapun kecuali beragama Islam. Praktik penyembelihan halal sebagian besar sama, sesuai syariah.

Namun kini, penyembelih hewan halal di Selandia Baru harus dilatih agar memenuhi standar Otoritas Kualifikasi Selandia Baru (NZQA). Lebih dari 50 perusahaan pengekspor daging halal wajib terdaftar di Kementrian Industri Primer (MPI).

Pemimpin Eksekutif Asosiasi Industri Daging (MIA) Tim Ritchie mengatakan bahwa standar ini sudah diterapkan sejak 2009, sebelum dikeluarkannya Halal Notice pada 2010.

“Akhir-akhir ini konsumen dan para pengambil kebijakan di banyak pasar muslim mencari jaminan resmi kehalalan pangan yang mereka konsumsi,” kata Ritchie.

Pengetatan aturan ini didukung oleh Ali Al-Kawaji dari Federasi Asosiasi Islam Selandia Baru (FIANZ) yang melakukan audit di South Island. Menurutnya, akan lebih baik jika audit diperluas hingga perlakuan terhadap hewan di peternakan sebelum disembelih.

Hal ini akan sulit diterima para peternak. Namun, jika sebuah negara muslim besar menginginkan daging dalam jumlah besar diaudit sampai ke peternakannya, maka langkah tersebut bisa saja dilakukan

Data NZQA menunjukkan bahwa tahun lalu 118 orang memperoleh standar yang membuktikan bahwa mereka memiliki pengetahuan syariah dalam produksi dan sertifikasi daging halal. Selain itu, lebih dari 65 orang mendapatkan standar yang membuktikan mereka bisa memproduksi daging halal.

Menurut Richie, pemerintah yang diwakili Otoritas Keamanan Pangan Selandia Baru mengeluarkan Halal Notice pada 2010 akibat tekanan pasar.

Pada 2005, Malaysia membatasi impor dari sebagian besar pabrik pengolahan daging Selandia Baru dengan alasan halal yang ambigu. Implementasi Halal Notice membantu mengatasi masalah ini. Kini, 17 pabrik diizinkan mengekspor ke Malaysia.

Mat Stone, Direktur Hewan dan Produk Hewan MPI, mengatakan bahwa hanya perusahaan halal pengekspor daging yang wajib terdaftar di MPI. “Meski demikian, mungkin saja beberapa perusahaan diperbolehkan memproduksi daging halal untuk dijual secara domestik,” ujarnya.

Menurut data MIA September 2013, hampir 20% dari total ekspor daging merah dan produk turunan Selandia Baru bersertifikat halal. Produk halal dari negara ini diekspor ke 66 negara.

Sebanyak 75.000 ton ekspor produk halal yang bernilai $392 juta (Rp 4,4 triliun) dikirimkan ke negara-negara muslim. Sisanya, yakni 115.000 ton, diekspor ke negara-negara lain.

Read More


Via halalmui.org

Inayati tak menyangka bahwa produk roti yang ia beli di sebuah gerai pusat perbelanjaan ternyata belum jelas kehalalannya. Padahal, sebagai Ibu yang sehari-hari mengajarkan anak-anaknya agar senantiasa mengonsumsi produk halal, warga Cibubur, Jakarta Timur itu senantiasa menanyakan kepada pihak penjual perihal kehalalan produk yang hendak ia beli.

“Ketika saya tanyakan kepada penjualnya, katanya roti yang ia jajakan sudah halal, dan sertifikatnya sedang dalam proses,” ujar Inayati, dalam suratnya yang ia kirimkan ke LPPOM MUI, beberapa waktu lalu. Wanita asal Madiun, Jawa Timur itu pun lantas menanyakan kepada LPPOM MUI, apakah produk yang sedang dalam proses pengajuan sertifikasi halal sudah boleh mengklaim halal?

Menanggapi pertanyaan tersebut, Wakil Direktur LPPOM MUI Bidang Auditing dan SJH Ir. Muti Arintawati, M.Si, menegaskan bahwa pengajuan proses sertifikasi halal tidak bisa dijadikan dasar untuk mengklaim bahwa produk yang dijajakan dijamin halal. Masih ada beberapa tahapan yang harus dilakukan, termasuk pemeriksaan bahan, proses produksi, penyimpanan hingga proses lainnya. “Bagaimana bisa dikatakan halal kalau pemeriksaannya saja belum dilakukan,” kata Muti Arintawati.

Oleh karena itu, Muti mengingatkan agar masyarakat lebih teliti lagi dalam memilih produk halal. Cara paling mudah, kalau produknya berbentuk kemasan adalah dengan memeriksa ada tidaknya logo halal MUI pada kemasan produk yang hendak dibeli. Sedangkan untuk resto dan kafe, termasuk gerai bakeri, tanda halal bisa dikenali dengan adanya logo halal dan atau lembar sertifikat halal MUI yang dipajang di gerai resto atau kafe yang bersangkutan.

Masyarakat juga dihimbau agar meneliti keabsahan dari sertifikat halal yang dipajang. “Periksa juga tanggal dan tahun masa berlaku sertifikat halal tersebut, apakah masih berlaku atau sudah kadaluwarsa,” tambahnya.

Muti menambahkan, di LPPOM MUI sendiri sebenarnya sudah ada mekanisme untuk mengontrol masa kadaluwarsa sertifikat halal yang diberikan kepada perusahaan, untuk jangka waktu dua tahun tersebut. Sebelum masa berlakunya habis, pihak perusahaan akan dihubungi untuk melakukan perpanjangan. Namun, karena sertifikat halal sifatnya suka rela, maka LPPOM MUI tidak bisa memaksa agar perusahaan melakukan perpanjangan.

Dalam hal pihak perusahaan tidak bersedia melakukan perpanjangan, maka otomotis sertifikat halal yang pernah diperoleh dinyatakan tidak berlaku lagi. Namun, tambahnya, tidak tertutup kemungkinan adanya praktek-praktek tidak terpuji dari perusahaan, misalnya masih memasang logo atau sertifikat halal yang sudah tidak berlaku.

Oleh karena itu, peran serta aktif dari masyarakat konsumen dan para tokoh penggiat halal, sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa produk halal yang beredar di masyarakat adalah produk yang memang benar-benar halal, bukan halal yang diklaim secara sepihak oleh pihak pedagang,” tukasnya.

Read More


Via detik.com

Jakarta – Kini kosmetik untuk para wanita muslim yang telah bersertifikat halal sudah mulai berkembang di Indonesia. Salah satunya Mazaya, brand kosmetik terbaru yang bersertifikat halal.

Brand di bawah naungan PT Pesona Amaranthine Cosmetiques dan PT Immortal Group itu merilis berbagai produk kecantikan, mulai dari krim sehari-hari, bedak, lipstik, wewangian, body lotion, hingga serum wajah. Semua produk Mazaya berasal dari bahan baku yang diimpor dari luar negeri. Selain itu, bahan tersebut juga dikombinasikan dengan berbagai teknologi terbaru.

Kosmetik dari Mazaya ini dibuat dengan menggunakan teknik aquadrops yang mampu membuat krim lebih cepat meresap ke kulit. Tak hanya itu, kandungan astaxanthin, yang diekstrak dari ganggang laut, di dalam semua produk Mazaya juga diklaim menyehatkan kulit. Kandungan tersebut menghasilkan antioksidan yang diklaim 6.000 kali lebih bagus dari vitamin C dan 1.000 kali lebih baik dari vitamin E.

General Manager Marketing Mazaya Erlisativani, mengatakan, krim dari Mazaya bisa membersihkan komedo membandel dan tidak menimbulkan flek hitam. Efek krim juga membuat wajah tampak lebih muda karena pengaruh kandungan antioksidan tersebut. Meskipun berasal dari bahan internasional, kandungannya diklaim halal. Seperti koleksi body cologne yang berbasis air dan tidak mengandung alkohol tapi tahan sampai 18 jam.

Semua produk Mazaya memang berasal dari bahan yang halal. Hal itu telah diteliti lebih dahulu agar tidak mengandung zat-zat yang memang dilarang secara Islam. Ini dibuktikan dengan adanya sertifikat halal dari Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).

“Seluruhnya bahan baku bebas dari zat-zat haram. Bukan hanya bahan bakunya itu saja, tapi enzim yang tercampur di dalamnya juga bukan dari binatang yang dilarang dalam Islam. Proses produksinya menghasilkan produk kosmetik secara halal. Kemudian disahkan oleh LPPOM MUI,” tutur Yoga Iwanoff Kasjmir selaku Managing Director PT Pesona Amaranthine Cosmetiques saat konferensi pers di Regal Cafe, Pondok Indah Mall 2, Jakarta Selatan, Kamis (27/3/2014).

Ternyata tidak hanya bersertifikat halal tapi juga memiliki pengakuan internasional. Mazaya memiliki sertifikat internasional berupa Good Manufacturing Practice (GMP) kosmetik dan 4 sertifikat ISO. Brand yang baru didirikan awal 2014 itu pun telah memiliki kantor representative di Dubai dan produknya sudah siap diekspor ke Malaysia, Thailand, hingga Brunei Darussalam
Selain itu, Mazaya juga mengenalkan tiga brand ambassador yang merupakan selebriti serta hijabers ternama, di antaranya Zaskia Adya Mecca, Indah Nada Puspita, dan Sidah Mufidah. Zaskia pun menambahkan, selain merawat kulit, Mazaya juga merupakan label kosmetik yang memiliki konsep charity.

“Selain cantik dan sehat, setiap pembelian produk Mazaya, akan didonasikan Rp 2.000 per produk untuk kaum dhuafa. Jadi kita juga sekalian beramal,” tutur istri dari Hanung Bramantyo itu.

Read More


Jakarta – Kroasia hanya memiliki sedikit populasi muslim. Namun, di negara ini ada Pusat Sertifikasi Mutu Halal. Lembaga ini adalah bagian dari jaringan sertifikasi halal di negara-negara eks Yugoslavia seperti Bosnia-Herzegovina, Serbia, Macedonia, dan Montenegro.

Tujuan pendirian lembaga halal tersebut adalah mendirikansistem mutu yang memungkinkan produsen dan penyedia jasa mengajukan sertifikasi untuk proses produksi dan produk mereka. Dengan sertifikasi ini, perusahaan juga punya kesempatan untuk menempatkan produk mereka di pasar halal.

Pusat Sertifikasi Mutu Halal didirikan pada tahun 2010. Visi utamanya adalah memperkuat persaingan dan posisi perusahaan Kroasia di pasar halal dunia. Lembaga ini juga mempromosikan Kroasia sebagai destinasi ‘ramah halal’.

Industri Kroasia menyadari pentingnya memiliki sertifikat halal karena semakin berkembangnya pasar halal. Kini, 20% dari pangan yang diproduksi di seluruh dunia dan 13% sektor pariwisata bersertifikat halal.

Untuk negara seperti Kroasia yang sektor pangan dan pariwisatanya cukup besar, ini adalah peluang emas. Meski produk Kroasia kompetitif di mana-mana, Timur Tengahlah yang paling menarik perhatian.

Komunitas Islam di Kroasia sedang mencoba membangun jaringan untuk memenuhi permintaan dari Timur Tengah. Inisiatif ini diprediksi akan meningkatkan pasokan produk dan jasa bersertifikat halal.

Sampai 2006-2007, komunitas Islam memberi sertifikat halal hanya kepada rumah potong hewan. Kini, aksi yang terkoordinasi akan menghasilkan prospek yang lebih cerah bagi perusahaan-perusahaan lokal

Di tahun 2012, sekitar 40.000 wisatawan muslim dan Yahudi mengunjungi Kroasia dan jumlahnya diprediksi akan bertambah. Tamu-tamu ini seringkali bermasalah dengan makanan dan akomodasi. Hanya sedikit hotel dan restoran yang bersertifikat halal dan kosher.

Menurut direktur Pusat Sertifikasi Mutu Halal Aldin Dugonji kepada The Atlantic Post (20/03/2014), saat ini 46 produsen memiliki sertifikat halal. Ada tujuh hotel dan satu restoran yang dinilai ramah halal.

Dugonki menambahkan bahwa 10 produsen lain sedang dalam proses memperoleh sertifikat halal. Tahun ini ada 15 permintaan baru yang menunjukkan ketertarikan Kroasia untuk terbuka pada pasar Timur Tengah dan wilayah lainnya. Di antara banyak permintaan tersebut adalah dapur sekolah dan bandara halal.

Komunitas Islam Kroasia bekerja keras untuk membuat negara ini menjadi contoh negara-negara lain di Uni Eropa. Kroasia diyakini bisa menjadi destinasi halal terstandar pertama di Eropa sekaligus produsen halal besar.

Layanan yang lebih murah dan berkualitas serta iklim yang sejuk di musim semi dan musim gugur membuat Kroasia jadi destinasi yang banyak diminati orang Arab. Mereka membelanjakan rata-rata $500 (Rp 5,7 juta) lebih banyak daripada tamu-tamu Eropa.

Mereka juga punya akses mudah ke Kroasia lewat transit bandara di Istanbul dan Doha. Satu-satunya kesulitan yang mereka hadapi adalah memperoleh visa.

Sumber. Fitria Rahmadianti – detikFood

Read More


Muslim yang menghuni Saint-Quentin-Fallavier segera memperoleh haknya. Mereka bisa mengonsumsi menu halal. Penyediaan makanan halal oleh penjara di Grenoble, Prancis itu merupakan perintah pengadilan yang mengabulkan tuntutan tahanan Muslim.

Sebenarnya, November tahun lalu, pengadilan administratif sudah memutuskan, penjara harus menyediakan makanan halal bagi tahanan Muslim. Jika tidak, mereka dianggap melanggar hak Muslim dalam menjalankan keyakinan agamanya.

Namun, Menteri Hukum Prancis Christiane Tuabira menentangnya. Putusan pengadilan tak dilaksanakan. Kementerian Hukum beralasan, ketetapan pengadilan tak praktis. Sebab, penjara harus benar-benar mengatur ulang katering.

Pemerintah juga menyatakan, penjara telah cukup memadai dalam menghormati kebebasan agama para tahanan Muslim. Selama ini, tahanan diberi pilihan menu yakni vegetarian dan menu tanpa daging babi.

Pekan lalu, argumen yang diajukan kementerian ditolak pengadilan banding. Pengadilan menegaskan, penjara dapat dengan mudah melakukan tender bagi perusahaan katering untuk menyediakan makanan halal.

‘’Ini kekalahan terbaru bagi Kementerian Hukum,’’ kata Alexandre Ciaudo pengacara tahanan Muslim, seperti dikutip laman berita Alarabiya, Selasa (25/3). Sekarang, penjara harus menerapkan putusan tersebut.

Menurut laman berita France24, semua bermula dari tuntutan seorang tahanan Muslim di Saint-Quentin-Fallavier, yang dikenal dengan nama Adrien K. Pada Maret 2013, ia menuntut agar para tahanan Muslim diberi menu halal.

Sayangnya, tuntutan Adrien ditolak otoritas penjara. Keadaan ini tak membuatnya angkat tangan. Ia mengajukan gugatan melalui pengadilan administratif di Grenoble. Melalui putusan pada 7 November, pengadilan berpihak pada Adrien.

Pengadilan memerintahkan penjara memenuhi keinginan Adrien, harus menyediakan menu berupa daging halal bagi tahanan Muslim dalam kurun tiga bulan setelah putusan. Penyediaan makanan halal diyakini tak akan menambah biaya dan secara teknis tak sulit.

Alexandre Ciaudo, pengacara Adrien, menyebut peristiwa ini sebagai terobosan hukum di Prancis. Sebab, lembaga peradilan mengharuskan penjara menyediakan makanan tertentu yang berkaitan dengan keyakinan agama tahanan.

Namun pemerintah enggan menuruti perintah pengadilan. Beruntung, pekan lalu, pengadilan banding kembali berpihak pada Adrien.
Untuk kedua kalinya, pengadilan menegaskan, Penjara Saint-Quentin-Fallavier harus memberikan makanan halal bagi tahanan Muslim.

Makanan halal di penjara, merupakan salah satu isu panas yang menyengat Prancis. Isu lainnya adalah desakan agar sekolah dan kemah-kemah liburan mestinya memberikan makanan halal bagi para siswa Muslim.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ferry Kisihandi

Read More


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sebanyak 100 pedagang bakso akan diberikan sertifikat halal secara gratis. Pedagang bakso yang dimaksud adalah pedagang bakso keliling di Jakarta Selatan.

Ketua Umum Asosiasi Pedagang Mi dan Bakso (Apmiso) Trisetyo Budiman mengatakan, rencana tersebut merupakan pilot project yang dilakukan atas kerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Akan dilakukan tahun ini,” ujar dia, usai melakukan pertemuan dengan Dewan Daging Nasional dan MUI, Selasa (11/3). Dalam pertemuan itu, mereka juga mendiskusikan mengenai daging sapi.

Dikatakan Trisetyo, ia meminta MUI untuk memproteksi pedagang bakso melalui sertifikat halal. Menurutnya, setiap lima tahun sekali terjadi siklus kampanye hitam terhadap pedagang bakso.

Misalnya, isu adanya bakso celeng atau bakso daging tikus. “Kita ingin sama-sama mencegah itu. Kita ingin MUI bisa memproteksi dengan memberi sertifikat halal,” katanya.

Dalam pertemuan itu dibahas mengenai harga daging yang mahal. Selain karena nilai dolar yang tinggi, mahalnya harga daging juga disebabkan berkurangnya sumber daging lokal.

Sekretaris Jenderal Dewan Daging Nasional Jody Koesmendro menambahkan, sekitar 80 persen daging sapi diserap pedagang bakso keliling. Karena itulah, daging sapi menempati posisi penting.

“Mulai dari orang biasa, sampai jenderal makan bakso. Kita ingin bagaimana caranya memberdayakan umat,” ujarnya. Hal tersebut, menurut dia, merupakan potensi besar dan MUI berperan dalam memfasilitasi.

Read More


Tape merupakan salah satu makanan terpopuler di Indonesia, banyak tersedia di mana mana, bahkan merupakan menjadi makanan favorit pada waktu lebaran di beberapa daerah. Akan tetapi, banyak sekali pertanyaan di seputar kehalalan tape ini mengingat tape mengandung alkohol dan alkohol merupakan komponen yang paling banyak terdapat pada minuman keras, sedangkan minuman keras adalah salah satu bentuk khamar yang keharamannya jelas. Dengan demikian, bagaimana dengan tape, apakah masuk kedalam kategori khamar? Mari kita diskusikan masalah tape ini dari berbagai segi.

Mengenai khamar, dalam menetapkan hukumnya yang pertama dikemukakan adalah hukum syar’inya, sedangkan ilmiah atau empiris (seperti adanya alkohol atau kadar alkohol) hanya bersifat mendukung saja. Dalam menetapkan hukum pun tidak hanya diambil satu dua dalil saja akan tetapi harus dilihat keseluruhan dalil karena semua dalil tersebut bersifat saling menguatkan dan melengkapi.

Dalil yang pertama dalam masalah khamar berbunyi

Setiap yang memabukkan adalah khamar (termasuk khamar) dan setiap khamar adalah diharamkan
(Hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari Abdullah bin Umar),

Dalil yang kedua berbunyi

Khamar itu adalah sesuatu yang mengacaukan akal
(pidato Umar bin Khattab menurut riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam memahami kedua dalil ini maka yang harus disadari adalah ini berlaku bagi segala sesuatu yang biasa dikonsumsi seperti minuman beralkohol (alcoholic beverages), ganja (dilinting dan dirokok), hasis, morfin (disuntikkan), bubuk narkoba (dihirup), dll.

Untuk sesuatu yang tidak biasa dikonsumsi seperti alkohol dalam bentuk murninya dan pelarut pelarut organik lainnya (alkohol atau etanol adalah salah satu jenis pelarut organik) seharusnya tidak terkena hukum ini karena mereka tidak dikonsumsi.

Akan tetapi, masalahnya jika dalilnya hanya yang dua itu saja maka akan banyak timbul pertanyaan diantaranya kalau hanya sedikit saja bagaimana?

Nah, untuk itu ada kaidah fiqih lainnya yang dasarnya adalah hadis yang berbunyi:

Jika banyaknya memabukkan maka sedikitnya juga haram“.

Jadi, kalau dalam kondisi biasa dikonsumsi bersifat memabukkan maka sedikitnya pun haram.

Ada pertanyaan lagi, kan banyak orang yang kalau pun minum satu gelas tidak akan mabuk? Jawabannya adalah kaidah fiqih lainnya yaitu

“Islam mencegah segala sesuatu ke arah haram” atau “Islam selalu berusaha menutup lubang ke arah haram”

dengan demikian maka yang dijadikan patokan adalah orang yang paling sensitif terhadap mabuk, bukan orang yang paling tahan. Ingat “la takrobu zinna”, janganlah engkau mendekati zina, mendekati saja tidak boleh apalagi berbuat zina. Dengan demikian, mencegah ke arah haram itu yang harus kita lakukan.

Masalahnya, ada hal-hal lain yang berpotensi untuk berubah menjadi minuman memabukkan, mungkin saja pada kondisi diharamkan tersebut tidak bersifat memabukkan, akan tetapi sesuai dengan prinsip Islam yang mencegah ke arah haram maka ditetapkanlah hukum yang menjaga ke arah haram tersebut.

Hal ini misalnya berlaku untuk jus, berdasarkan hadis maka jus buah (atau yang sejenis) yang disimpan pada suhu kamar dalam kondisi terbuka selama lebih dari dua hari termasuk kedalam khamar. Mengapa hal ini ditetapkan?, kelihatannya lagi-lagi tujuannya untuk mencegah terjadinya perdebatan di kemudian yang ternyata benar yaitu kalau batasannya hanya “mengacaukan akal” maka orang akan berdebat jus buah yang difermentasi alkohol selama 3 hari kan masih belum bersifat memabukkan?

Nah, dengan batasan dua hari itu maka dari sisi proses seharusnya sudah tidak perlu diperdebatkan lagi karena begitu melibatkan fermentasi alkohol jus buah lebih dari 2 hari, hasilnya adalah khamar. Ada jenis fermentasi lain tetapi biasanya memerlukan kondisi khusus, jika spontan begitu saja dan terjadi pada jus buah maka kemungkinan besar itu adalah fermentasi alkohol.

Apa cukup dalil-dalil itu? Ternyata masih ada dalil lain, hal ini juga untuk memudahkan untuk mengenali khamar, dasarnya adalah hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw sewaktu berbuka puasa disodori jus yang sudah mengeluarkan gelembung (gas), ternyata Rasulullah saw menolaknya dan menyebutkan itulah minuman ahli neraka (khamar).

Dari sini bisa disimpulkan salah satu ciri khamar yang dibuat dari jus buah atau yang sejenisnya adalah adanya gas yang keluar dari jus tersebut (bukan gas karbondioksida atau CO2 yang sengaja ditambahkan seperti pada minuman berkarbonasi/carbonated beverages) yang berarti telah terjadi fermentasi alkohol dan telah mencapai batas memabukkan berdasarkan batasan proses dan ciri-ciri produk.

Nah, masih ada lagi pertanyaan lain, jika begitu kalau kadar alkoholnya hanya 1 persen seperti pada minuman shandy, apakah halal? Lagi-lagi hukum syar’i disini yang lebih kena untuk menjawab pertanyaan tersebut, akan tetapi untuk menerapkannya harus tahu dulu bagaimana proses pembuatan minuman shandy tersebut.

Ternyata minuman shandy dapat terbuat dari bir ditambah air, flavor dan karbon dioksida. Bir jelas haramnya karena termasuk kedalam kelompok minuman beralkohol (alcoholic beverages), hal ini ditetapkan atas dasar kesepakatan yang merujuk pada dalil-dalil yang telah disebutkan diatas. Karena minuman shandy dibuat dari bir maka hukumnya haram berdasarkan kaidah fiqih “apabila bercampur antara yang halal dengan yang haram maka akan dimenangkan yang haram”, jadi suatu makanan atau minuman jika tercampur atau dibuat dengan barang yang haram maka berapapun campurannya atau berapapun sisanya maka makanan dan minuman tersebut hukumnya tetap haram.

Hal ini berlaku karena dalam pembuatan makanan pencampuran tersebut bisa berlangsung merata ke seluruh bagian makanan.

Bagaimana dengan tape? Coba kita kaji dengan dalil-dalil yang telah dijelaskan diatas:

1. Apakah tape yang baru jadi (masih segar) bersifat memabukkan? Belum ada yang melaporkan bahwa tape yang baru jadi ini memabukkan.

2. Apakah tape dibuat dari jus yang diperam lebih dari dua hari? Memang bukan dibuat dari jus, akan tetapi begitu tape (khususnya tape ketan, tidak berlaku bagi peuyeum bandung yang selalu keras) disimpan pada suhu ruang maka akan terbentuk jus yang bisa dianalogikan dengan jus buah-buahan yang tidak boleh diperam lebih dari dua hari, dengan demikian tape ketan juga sama, tidak boleh disimpan pada suhu ruang lebih dari dua hari (dihitung dari mulai jadi tape) karena pada hari ketiga sudah bisa digolongkan kedalam khamar.

3. Apakah terbentuk gelembung? Jika tape ketan disimpan lebih dari dua hari biasanya terbentuk cairan yang mengeluarkan gelembung dan busa. Ini merupakan tanda bahwa tape tersebut sudah tidak boleh dikonsumsi lagi karena bisa dianalogikan dengan jus yang ditolak oleh Rasulullah saw karena sudah terlihat adanya gelembung.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tape ketan tidak boleh disimpan pada suhu ruang lebih dari 2 hari karena lebih dari itu bisa dimasukkan kedalam kategori khamar. Akan tetapi, bagaimana dengan kadar alkoholnya?

Baru-baru ini ada hasil penelitian mengenai tape ketan yang dilaporkan di jurnal ilmiah International Journal of Food Sciences and Nutrition volume 52 halaman 347 – 357 pada tahun 2001. Pembuatan tape ketan dilakukan di lab mengikuti cara tradisional, tapi terkontrol dimana 200 g beras ketan dicuci, direndam selama 2 jam, dikukus 10 menit.

Beras ketan lalu dibasahi dengan air dengan cara merendamnya sebentar dalam air, dikukus lagi 10 menit, didinginkan, lalu diinokulasi (ditaburi) dengan 2 g starter (ragi tape merek Tebu dan NKL), dimasukkan kedalam cawan petri steril, lalu difermentasi pada suhu 30 derajat Celsius selama 60 jam.

Berikut adalah kadar etanol yang diperoleh berdasarkan pengukuran dengan menggunakan kit yang diperoleh dari Boehringer Mannheim:

kadar etanol (%) :
1. Pada 0 jam fermentasi tidak terdeteksi,
2. > 5 jam fermentasi kadar alkoholnya 0.165%,
3. > 15 jam 0.391%, setelah 24 jam 1.762%,
4. > 36 jam 2.754%,
5. > 48 jam 2.707% dan setelah 60 jam 3.380%.

Dari data tersebut terlihat bahwa setelah fermentasi 1 hari saja kadar alkohol tape telah mencapai 1.76%, sedangkan setelah 2.5 hari (60 jam) kadarnya menjadi 3.3%, bisa dibayangkan jika dibiarkan terus beberapa hari, bisa mencapai berapa %? (memang tidak akan naik terus secara linear, akan mencapai kadar maksimum pada suatu saat).

Padahal, komisi fatwa MUI telah berijtihad dan menetapkan bahwa minuman keras (khamar) adalah minuman yang mengandung alkohol 1% atau lebih, sedangkan tape ketan yang dibuat dengan fermentasi 1 hari saja kadar alkoholnya telah lebih dari 1%.

Jika batas kadar alkohol yang diterapkan pada minuman ini diterapkan pada tape maka jelas tape ketan tidak boleh dimakan karena kadar alkoholnya lebih dari 1%.

Tentu saja nanti akan ada yang mempertanyakan, bukankah tape itu makanan padat sedangkan minuman keras itu suatu cairan sehingga tidak sama antara makanan padat dan minuman.

Pertanyaan ini sah sah saja, akan tetapi jika digabungkan antara kaidah kaidah yang berlaku pada khamar terhadap tape dan fakta kadar alkohol tape ketan maka tetap saja tape ketan ini rawan dari segi kehalalannya.

Walaupun demikian, perlu diketahui bahwa belum ada fatwa mengenai tape ini. Oleh karena itu pilihan ada di tangan masing-masing, mana pendapat yang akan diikuti. Apabila ingin menjaga dari hal-hal yang meragukan maka menghindari makanan yang meragukan (syubhat) adalah yang utama.

Jadi, yang dipermasalahkan disini khususnya adalah tape ketan, kalau peuyeum Bandung insya Allah tidak bermasalah karena selalu keras.

Tape singkong (peuyeum) akan lebih banyak kandungan alkoholnya bila dibuat dengan cara ditumpuk, dengan cara ini kondisi lebih bersifat anaerobik; jadi sesuai dengan fenomena “Pasteur Effect” maka produksi alkohol menjadi lebih banyak. Bila dibuat dengan cara digantung seperti yang terjadi pada peuyeum Bandung, maka cenderung lebih manis, karena lebih aerobik. Pada kondisi yang lebih aerobik ini, yeast (ragi) cenderung lebih banyak menghasilkan amilase dan atau amiloglukosidase, dua enzim yang bertanggung jawab dalam penguraian karbohidrat menjadi glukosa dan atau maltosa.

Oleh sebab itu relatif lebih aman membeli tape gantung atau peuyeum Bandung. Akan tetapi, untuk jenis tape singkong lainnya ya perlu hati-hati, khususnya kalau sudah berair, itu sudah meragukan karena mungkin sudah mengandung alkohol yang relatif tinggi. Menghindari tape singkong yang sudah berair adalah yang sebaiknya.

Demikian, semoga manfaat

Read More


Air dan minyak selamanya tidak akan bisa menyatu. Jika kita hendak mencampurkan keduanya, maka dalam sekejap keduanya akan memisah kembali. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan tingkat polaritas di antara dua zat tersebut. Air merupakan molekul yang memiliki gugus polar. Sedangkan minyak merupakan zat yang memiliki gugus non polar. Perbedaan ini menyebabkan keduanya tidak bisa menyatu, karena gugus polar hanya bisa bersatu dengan gugus polar, sedangkan gugus non polar hanya bisa bersatu dengan gugus non polar.

Mengapa susu murni yang berasal dari sapi atau kambing bisa menyatu? Padahal di dalamnya terdapat air dan lemak (lemak susu) secara bersamaan? Itulah dahsyatnya sebuah emulsi. Keduanya bisa bersatu karena terdapat bahan pengemulsi (emulsifier) alamiah, berupa protein yang menjembatani antara keduanya.

Protein memiliki gugus polar di satu sisi dan memiliki gugus non polar di sisi lain. Oleh karena itu ujung polar akan berikatan dengan air dan non polarnya berikatan dengan lemak. Maka terjadilah emulsi yang menyebabkan keduanya kelihatannya seperti bercampur.

Makanan atau minuman olahan yang terdiri dari lemak/minyak dan air secara bersamaan maka di dalamnya pasti ada bahan pengemulsi. Sebab jika tidak ditambahkan bahan tersebut maka akan terjadi pemisahan antara keduanya. Bahan pengemulsi inilah yang perlu diwaspadai dari segi kehalalan, karena tidak semua pengemulsi itu halal.

Secara umum bahan pengemulsi terdiri dari emulsifier alami dan emulsifier buatan (sintetis). Pengemulsi alami dibuat dari bahan-bahan yang berasal dari alam. Misalnya dari biji kedelai, kuning telur dan sebagainya. Di dalam biji kedelai terdapat minyak yang cukup tinggi, di samping air. Keduanya dihubungkan oleh suatu zat yang disebut lecithin. Bahan inilah yang kemudian diambil atau diekstrak menjadi bahan pengemulsi yang bisa digunakan dalam produk-produk olahan.

Sebenarnya lecithin ini secara alami terdapat juga pada biji-bijian lain serta dalam produk hewani, seperti telur dan otak. Tetapi kandungan lecithin yang mudah dan murah untuk digunakan adalah yang terdapat pada biji kedelai.

Jika lecithin tersebut berasal dari biji kedelai, maka dari segi kehalalan akan lebih aman. Tetapi tidak menutup kemungkinan lecithin tersebut diekstrak dari bahan-bahan lain, seperti telur dan otak binatang. Selain itu untuk meningkatkan efektifitas pengemulsian, pada lecithin tersebut kadang-kadang masih ditambahkan enzim tertentu. Enzim inipun perlu diwaspadai kehalalannya, karena bisa berasal dari sumber yang tidak halal.

Adapun bahan pengemulsi buatan atau sintetis ini berasal dari rekayasa manusia untuk menghasilkan jembatan antara minyak dan air. Meskipun disebut sintetis, tetapi tidak sepenuhnya berasal dari bahan sintetis. Hanya proses pembuatannya saja yang dirancang secara buatan manusia, tetapi bahan-bahannya sering berasal dari bahan alami.

Seperti diketahui, lemak atau minyak merupakan trigliserida dengan satu gugus gliserol yang memiliki tiga tangan, yang masing-masing berikatan dengan asam lemak. Asam lemak inilah yang bersifat non polar. Sedangkan gliserol sendiri bersifat polar. Dengan demikian ketika satu atau dua asam lemaknya dilepaskan dari tangan gliserol, maka akan dihasilkan monogliserida atau digliserida yang masing-masing hanya memiliki satu dan dua gugus asam lemak. Asam lemak yang tersisa bisa berikatan dengan lemak, sedangkan tangan gliserol yang kosong bisa berikatan dengan air. Maka jadilah mono dan digliserida yang berfungsi sebagai penghubung antara air dan minyak atau menjadi emulsifier sintetis.

Bahan buatan manusia itu sebenarnya berasal dari lemak yang direkayasa. Sementara sumber lemaknya sendiri bisa bermacam-macam, ada yang berasal dari minyak bumi (sintetis) ada pula yang berasal dari lemak nabati (tumbuhan) maupun hewani. Untuk aplikasi emulsi pada bahan makanan lebih diutamakan penggunaan lemak dari tumbuhan dan hewan, karena yang berasal dari minyak bumi tidak food grade.

Nah, sumber lemak inilah yang perlu dikaji dengan baik, khususnya menyangkut halal dan tidaknya. Jika berasal dari lemak tumbuhan, mungkin masih lebih aman. Namun ketika sudah bicara dari lemak hewani, maka tentunya harus dikaji lagi, apakah hewannya halal atau tidak. Khusus untuk hewan halalpun masih harus dilihat, apakah proses penyembelihannya sesuai dengan syariat Islam ataukah tidak. Selain itu proses pemotongan salah satu atau dua asam lemak dari trigliserida tersebut juga menggunakan enzim lipase yang perlu diteliti, apakah berasal dari sumber yang halal ataukah tidak.

Oleh karena itu, ketika kita mengkonsumsi produk-produk emulsi, seperti cokelat, margarin, susu bubuk instan, es krim, dan sebagainya, jangan lupa melihat bahan pengemulsi yang dipakai. Keterangan ini biasanya terdapat pada ingredient bahan yang terdapat pada kemasannya.

Penulis: Hendra Utama dan Nur Wahid, Auditor LPPOM MUI.

Sumber: Republika 28 Juli 2006

Read More